3 Tindakan PRB Gempa Sesar Cimandiri

SUKABUMI, DISASTERS.ID – Penyelidik Bumi Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Dr Supartoyo mengungkapkan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu meramal kejadian gempa bumi dengan tepat.

“Tidak ada seorangpun yang mampu memprediksi dengan tepat kapan, dimana, dan berapa kekuatan gempa bumi yang akan terjadi,” ungkap Supartoyo saat dikonfirmasi Selasa (31/1/2022) malam.

Kejadian gempa bumi darat yang merusak di Cianjur pada 21 November 2022 dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi masyarakat dan pemerintahan di Sukabumi.

Mumpung belum terjadi bencana (prabencana), obat mujarab untuk pengurangan risiko bencana (PRB) gempa bumi ada tiga tindakan.

1. Meningkatkan upaya mitigasi gempa bumi baik mitigasi struktural maupun non struktural.

2. Melakukan penataan ruang pada Kawasan Rawan Bencana Gempa (KRBG) pada zona jalur sesar aktif.

3. Penguatan-penguatan regulasi kebencanaan. Misalnya menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang potensi bencana gempa bumi pada masing-masing segmen tersebut.

“Karena perlakuannya harus berbeda dengan daerah lain,” ujar pengajar tamu mitigasi bencana geologi di Prodi Teknik Geologi dan GREAT ITB 2008 hingga sekarang.

Baca juga : https://disasters.id/2023/02/06/sesar-cimandiri-berpotensi-gempa-magnitudo-65/

Segmen Sesar Cimandiri

Menurut Supartoyo sesar Cimandiri yang ada di Sukabumi berpotensi menghasilkan gempa kekuatan M 6,5 dengan skala intensitas VIII MMI.

Sesar Cimandiri menurut Badan Geologi merupakan sesar yang terbagi dalam 3 segmen, yakni:

1. Bagian Barat disebut segmen Cibuntu sepanjang 17,2 kilometer, mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan maksimum M 6,5.

2. Bagian tengah disebut segmen Padabeunghar panjangnya 12,78 kilometer, mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan maksimum M 6,4.

3. Sebelah timur disebut segmen Baros dengan panjang 16,36 kilometer, mampu menghasilkan gempa dengan kekuatan maksimum M 6,5.

Catatan Badan Geologi gempa bumi Sesar Cimandiri di wilayah Segmen Cibuntu (barat) pernah terjadi gempa 1600 tahun lalu. Termasuk Segmen Padabeunghar bagian tengah.

Sedangkan Segmen Baros (Timur) akhir-akhir ini kecenderungannya lebih aktif. Karena pernah terjadi gempa bumi merusak tahun 1982 dan 2021.

“Terutama pada segmen barat dan tengah harus meningkatkan kewaspadaan. Segmen timur juga tetap harus waspada,” imbau Supartoyo.

Gempa Sesar Cimandiri

Gempa 1982 terjadi 10 Februari pada malam hari di darat di wilayah Cireunghas berkekuatan M5,5 dengan kedalaman 25 kilometer.

Kejadian tersebut mengakibatkan bencana yaitu 4 orang luka-luka, puluhan bangunan mengalami kerusakan.

Juga terjadi gerakan tanah yang dipicu oleh gempa bumi, dan retakan tanah di daerah Sukabumi.

Sedangkan gempa 2021 terjadi 5 Juni 2021 Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3 terjadi di darat di wilayah Kecamatan Cireunghas pada kedalaman 3 kilometer.

Sejumlah bangunan rumah di wilayah Kecamatan Cireunghas dilaporkan rusak terdampak gempa.

Keterangan Foto : Sesar Cimandiri dengan sesar penyerta.

Facebook Comments